Sabtu, 20 September 2008

Pojok Puisi

PUISI YANG TERSISA TH 1984
Oleh Sugeng Riyadi

EBTAKU
Detak-detak jantung berlalu pagi ini,
Sejuta rasa mengalir di ujung pena
Gores demi gores
Menyelimuti huruf-huruf dewasa
Matematik,
Sulitnya kayak naik bulan

TB+ HD,
Sulitnya kayak menghadapi pacar yang lagi ngambek,
Dan PMP,
Persis kayak novel
Ketika aku berpandang pada naskah bahasa inggris
AKU DAMPRAT HABIS-HABIS , kan aku bukan orang inggris ?
Barang kali saja
Ini adalah perjalanan
Direntetan usia
Yang selalu bikin berdebar-debar
Dalam lintasan jembatan nasib
ATAU AKU YANG KELEWAT BODOH ?
Padahal waktu selalu kupungut
Kadang mataku tetlalu lelap
Bermesraan dengan doktrin-doktrin sekolah
Andai ini bukan tuntutan
Lebih asyik mohon pada Tuhan
Agar kiamat dijatuhkan hari ini
Meski aku belum sempat nikah
Dan aku mengawali kenal sama Malaikat Ridwan
Biar dapat prioritas
Aku bisa masuk surga
Tanpa Ebtanas
Moker 13 April 1984


PRASASTI BUMI KETINTANG

Aku benci senyummu
Aku benci sinar matamu
Aku benci lengking tawamu
Aku benci desah suaramu
Aku membencimu
Sugeng Riyadi Nop ‘ 84

Rabu, 17 September 2008

Koleksi Ucapan Idul Fitri

Diposting Oleh: Matekur
Email: matekur@yahoo.com

Andai jemari tak smpt berjabat, andai raga tak dpt b'tatap seiring beduk yg mgema, seruan takbir yg berkumandang kuhaturkan salam menyambut hari raya idul fitri jika aku ada kata serta khilafku membekas lara mhn maaf lahir batin. SELAMAT IDUL FITRI

Mawar berseri dipagi haripancaran putihnya menyapa nuranisms dikirim pengganti diriSELAMAT IDUL FITRIMOHON MAAF LAHIR BATHINSebelum Ramadhan pergiSebelum Idul fitri datangSebelum operator sibukSebelum sms pending muluSebelum pulsa habisDari hati ngucapin MINAL AIDZIN WAL FAIDZINMOHON MAAF LAHIR DAN BATIN

Masih banyak lagi koleksi ucapan Lebaran, baca selengkapnya di www.matekur.blogspot.com

Sabtu, 13 September 2008

Lebaran dan Air Mata

Dipoting oleh: Matekur
Email: matekur@yahoo.com

Matahari baru saja terbit. Gema suara takbir yang bersahutan sejak tadisore semakin jelas terdengar dari corong-corong masjid. Orang-orangdengan pakaian bagus bergegas memasuki sebuah mesjid besar di salahsatu jalan di Jakarta. Kebanyakan mereka memakai busana Muslim dengankepala ditutupi kopiah. Selembar sajadah terselempang di pundak mereka.
Sebagian wanita tampak sudah memakai mukena sejak berangkat dari rumah.Sebagian lainnya berpakaian kebaya sambil menjinjing mukena dan sajadah.Anak-anak tidak lupa dibawa serta.
Meskipun sebagian besar jamaah berjalan kaki, namun tidak sedikitdiantara mereka yang datang ke masjid itu berkendaraan, baik sepedamotor maupun mobil.Kebanyakan mobil-mobil yang datang dipenuhi oleh seluruh anggotakeluarga. Perasaan gembira tampak jelas pada wajah-wajah mereka yangpenuh senyum.Maklumlah, hari ini adalah Hari Raya Idul Fitri, hari kemenangan umatIslam, setelah satu bulan lamanya mereka menjalankan ibadah Ramadhan.

Suara takbir semakin menggema. Jamaah semakin padat memenuhi ruanganmasjid yang luas itu. Sebagian mulai tampak membanjiri teras masjidkarena bagian dalam masjid sudah penuh. Sebentar saja, teras pun penuhterisi jamaah. Beberapa anak kecil memanfaatkan kesempatan itu untukmenawarkan koran bekas kepada jamaah yang baru datang. Di Jakarta, apapun bisa dijual, tak peduli di hari raya seperti ini.
Bukan hanya anak-anak penjaja koran bekas saja yang sedikit “mengganggupemandangan”(tm) pagi itu. Beberapa pengemis pun tampak berjejer didepan gerbang masjid menyambut para jamaah dengan menyodorkan baskomplastik. Beberapa diantara mereka menggendong bayi yang masih mungil.
Seorang anak laki-laki dengan wajah kusut dan pakaian yang masih kotorterlihat berdiri di depan gerbang. Sebut saja namanya Husein. Usianyasekitar tujuh tahun. Ragu-ragu ia memasuki gerbang masjid.
Ia tahu kalau hari ini adalah Hari Raya Idul Fitri, sehingga ia inginmasuk ke dalam masjid untuk ikut merayakannya dengan sholat Id. Akantetapi ia juga sadar kalau keadaan dirinya yang kusut dan tak terurusitu bisa menjadi pusat perhatian jamaah lain yang berpakaian rapi.
Husein memang mematung di depan gerbang. Beberapa rombongan jamaah yanghendak masuk ke masjid menyadarkan dirinya untuk segera menyingkir danmemberi jalan kepada mereka. Anak itu segera menepi. Diurungkan niatnyauntuk masuk ke gerbang masjid.
Kini ia sandarkan tubuhnya di pagar besi yang mengelilingi masjid. Daripagar itu ia bisa melihat bagaimana ramainya suasana halaman masjid olehpara jamaah dengan pakaian baru aneka warna. Anak-anak seusianya tampakduduk bersila di samping orang tua mereka dengan baju baru, kain sarungbaru dan peci yang juga baru. Kontras sekali dengan dirinya yang lusuholeh debu dan pakaian yang kotor.
Terbayang dalam ingatannya ketika tahun-tahun lalu ia masih bisamenikmati suasana lebaran yang penuh kebahagiaan bersama kedua orangtuanya. Pagi-pagi, ia sudah dibangunkan oleh tangan lembut ibunya.Terdengar suara takbir dari masjid dekat rumahnya. Kue-kue dan ketupattersaji di meja makan. Ia dan anak-anak seusianya tidak lupa ikut orangtua mereka sholat di masjid atau tanah lapang.Tawa canda tampak darimereka setiap kali bertemu. Mereka seolah saling memperlihatkan bajubaru yang mereka pakai.
Tapi itu dua tahun lalu, ketika kedua orang tuanya masih berada disisinya. Sebab beberapa bulan selepas kenangan manis itu, kedua orangtuanya harus bercerai.Sebagai seorang anak kecil, ia tidak mengerti mengapa kedua orang tuanyaharus bercerai, sehingga ia harus menjadi korban dari sikap egoismekedua orang tuanya.
Beberapa bulan kemudian , ia masih bisa merasakan kasih sayang ibunya ,meski tidak tahu lagi kemana ayahnya pergi. Tetapi lewat tiga bulan dariperceraian kedua orang tuanya, ibunya terpaksa kawin lagi dengan lelakilain. Parahnya, lelaki itu juga membawa ibunya pergi ke Jakarta. Konon,ayah tirinya itu punya pekerjaan di Jakarta meskipun hanya sebagaipekerja kasar.
Husein sendiri dititipkan kepada neneknya dari pihak ibu. Maklumlahsejak menikah, ayah dan ibunya memang menumpang di rumah neneknya itu.Karena itu, Husein sudah dekat dengan sang nenek meskipun tetap saja iamerasakan kehilangan kasih sayang kedua orang tuanya. Kalau saja iabesar, ia ingin sekali meninggalkan neneknya dan pergi ke Jakarta untukmenyusul kedua orang tuanya.
Sebenarnya, neneknya sendiri tidak memiliki penghasilan yang memadai. Diusianya yang sudah uzur, ia terpaksa menghidupi dirinya dan cucunyadengan kerja serabutan. Kadang ia masih ikut menjadi kuli di sawah ataukerja apa saja yang bisa mendatangkan sesuap nasi bagi dirinya bersamacucunya. Husein sendiri kerap kali membantu neneknya. Ibunya yang kononikut suaminya ke Jakarta tidak kunjung kabar beritanya. Jangankanmengirimkan uang untuk mereka, mengirimkan kabar saja tidak pernah.
Sampai akhirnya derita yang harus ditanggung Husein mencapai puncaknyaketika minggu lalu sang nenek pun akhirnya pergi untuk selama-lamanya.Neneknya meninggal dunia setelah dua hari menderita sakit. Para tetanggaberusaha mencari alamat ibunya untuk mengabari perihal kematian neneknyaitu. Tetapi tak satu pun yang tahu dimana alamat ibu Husein berada.Akhirnya jenazah sang nenek terpaksa dimakamkan tanpa kehadiran anakperempuan satu-satunya itu.
Selepas neneknya meninggal, beberapa saudara jauh dari neneknya mencobamerayu Husein agar mau tinggal di rumah mereka. Akan tetapi Huseintampaknya tidak bisamenerima kebaikan hati mereka. Mungkin ia merasa kurang mengenal mereka.Maklumlah mereka memang saudara jauh yang jarang datang ke rumahneneknya.
Akhirnya, satu hari setelah kematian neneknya, Husein nekad pergimeninggalkan kampung halamannya. Dengan bekal seadanya, ia pergi keJakarta untuk mencari ibunya. Ia sendiri tidak pernah membayangkanseperti apa sesungguhnya kota Jakarta. Ia memang pernah melihatnya,tetapi hanya lewat sinetron di televisi.
Husein pergi ke Jakarta dengan menumpang beberapa kendaraan. Darikampungnya di sebuah desa di Jawa Barat, ia menumpang mobil bak terbukayang kembali ke kota Kabupaten setelah mengantarkan barang-barangdagangan seorang pemilik toko.
Beruntung sang sopir mau mengantarkannya sampai ke terminal. Dariterminal ia menumpang bus jurusan Jakarta dengan gratis karena kebaikansang kondektur yang kasihan melihat Husein. Apalagi, seminggu menjelangIdul Fitri seperti ini, bus yang ditumpanginya justru kosong jika menujuJakarta.
Sampai di Kampung Rambutan, Husein langsung bertanya ke sana kemarimenanyakan orang-orang yang ditemuinya.Ia mengira mencari orang di Jakarta sama mudahnya seperti mencari orangdi kampungnya. Ternyata, semua orang yang ditanyainya malah memarahikebodohannya yang mencari orang tuanya tanpa kejelasan alamat sedikitpun.
Husein tidak mau menyerah. Ia merasa sudah terlanjur sampai di Jakarta.Pantang baginya kembali ke kampung halamannya. Apalagi ia merasa sudahtidak ada lagi saudaranya di kampung halamannya. Untuk apa kembali lagi?Sementara di ibukota ini, ia masih memiliki peluang untuk menemukanibunya, meskipun ia tidak tahu sampai kapan cita-citanya itu bisaterwujud.
Untuk mengganjal perutnya, ia berusaha mengamen dari satu bus ke buslainnya tanpa menggunakan alat musik apa pun. Ia mengamen hanyabermodalkan suara dan tepuk tangannya saja. Jika malam menjelang, iamencari tempat tidur di pinggir-pinggir toko atau terminal. Beruntung iabelum pernah dijahili oleh para preman.Dan pada hari kelima kedatangannya di Jakarta, Idul Fitri pun tiba.
Suara orang ramai keluar dari masjid menyadarkan lamunan Husein.Anak-anak seusianya berlarian dengan baju baru. Sebagian lainnyabergandengan tangan dengan ibu bapaknya. Tiba-tiba Husein kembaliteringat ibu bapaknya. Wajah neneknya juga berkelebat di benaknya. Tanpadisadari, setetes air hangat terbit di sudut kelopak matanya. Iabenar-benar merindukan orang-orang yang dicintainya itu.
Ternyata, tanpa ia sadari, sepasang suami isteri yang mobilnya harusantri keluar dari gerbang masjid, memperhatikan tingkah lakunya. Merekatrenyuh menyaksikan seorang anak yang berwajah polos dengan penampilankusut tampak melamun menerawang denga air mata yang tak mampu ditahan.Mereka tidak bisa membayangkan bagaimana jika nasib serupa menimpaanak-anak mereka, meskipun sampai saat ini mereka belum juga dikaruniaiseorang anak.
Suasana gerbang masjid yang semrawut membuat mobil pasangan yang sudahtujuh tahun belum dikaruniai anak ini tidak bisa bergerak. Entah apayang menggerakkan hati wanita itu, ketika tiba-tiba ia membuka pintumobil. Sejenak ia menatap wajah suaminya. Mata sang suami tampak memberiisyarat kalau ia menyetujui tindakan isterinya.
Sang isteri bergegas menghampiri Husein yang hendak bersiap pergimeninggalkan tempat itu. Sedikit gugup dan agak kesulitan untuk memulaimenyapa Husein, perempuan yang sudah lama merindukan hadirnya seoranganak dalam rumah tangganya itu, akhirnya memberanikan diri menurutinaluri rasa sayangnya menyapa Husein.
“Ibumu dimana?” tanya perempuan itu. Husein terkejut bukan kepalang. Iatidak mengira kalau perempuan itu ternyata menyapanya. Padahal, ia belumsempat menyekaair matanya.
Husein tidak mampu menjawab pertanyaan lembut itu. Ia seolah menemukankelembutan seorang ibu yang begitu lama dirindukannya. Ia hanya mampumenggeleng karena air matanya semakin deras mengucur di pipi.
“Dimana ibumu?” tanya wanita itu lagi.
Husein berusaha keras melawan perasaannya, tetapi ia tidak mampu.Berkali-kali ia mencoba mengusap air matanya, tetapi air bening ituseolah tumpah begitu saja, tak mampu dibendungnya.
Perempuan itu tampaknya semakin penasaran sekaligus merasa kasihankepada Husein. Ia segera membungkuk, lalu duduk berjongkok agar bisalebih dekat lagi dengan anak malang itu. Diberanikan dirinya untukmenyentuh kepala Husein. Lalu ia mengusapnya perlahan-lahan.
“Siapa namamu?” tanya wanita itu sambil menatap wajah Husein. Wanita itumelihat kepolosan di mata anak itu, juga duka yang begitu dalam.Tampaknya ia bisa membaca kepedihan dan duka Husein.
Mendapat perlakuan penuh kasih seperti itu, Husein semakin haru. Iatidak habis pikir. Betapa tidak, hampir satu minggu ia menjelajahibukota mencari ibunya, tetapi tak ada satu orang pun yang bersikap baikpadanya, apalagi menunjukkan perhatian yang begitu besar seperti wanitaini.
Sambil mengusap air matanya, ia mencoba memandang wanita itu. Wanita itumasih memandangnya dengan tatapan penuh kasih seorang ibu. Aneh,tiba-tiba perasaan haru yang besar merayap di hati Husein. Ia seolahmerasakan kembali tatapan dan kasih sayang ibunya yang sudah lama tidakdirasakannya. Tanpa sadar, ia memeluk wanita itu, seolah memeluk ibunyasendiri yang begitu lama tidak pernah mendekapnya. Air mata pun semakinderas mengalir dari pipinya membasahi busana Muslimah wanita itu.
Wanita itu segera menyambutnya. Ia mengelus punggung anak malang itu.Tanpa terasa, air matanya ikut menitik dan jatuh di pipinya. Ia bisamerasakan kesedihan dan kerinduan seorang anak yang mendambakankehangatan orang tuanya. Perlahan ia lepaskan pelukannya dan dipegangnyapundak Husein dengan lembut.
“Kamu tinggal dimana?” tanya wanita itu penuh harap.Matanya benar-benar menyelidik, berharap Husein segera menjawabnya.
, saya tidak punya rumah di sini. Saya mencari ibu. Katanya ibu keJakarta,”jawab Husein.“Dimana tinggalnya?” tanya wanita itu lagi.
Husein menggeleng, tetapi kemudia ia berucap, “Sudah hampir setahun ibupergi. Saya tidak tahu kemana. Kata nenek, ibu dibawa bapak tiri saya keJakarta. Jadi saya pergi ke Jakarta. “Dimana nenekmu?” tanya wanita itu.
“Nenek meninggal satu minggu yang lalu di kampung. Saya, saya tinggalsendiri. Bapak sudah lama pergi. Bapak kawin lagi. Saya tidak tahudimana,” cerita Husein.
Mendengar pengakuan polos Husein, wanita itu semakin terharu. Nalurikeibuannya yang lembut membuatnya tak mampu menahan tetesan air beningyang perlahan merambat di pipinya. Suaminya yang sejak tadi menunggu dimobil yang sudah menepi, akhirnya turun juga. Ia bisa melihat keharuandi mata isterinya, didekatinya isterinya sambil berjongkok memandangHusein.
“Maukah kamu menganggap saya ibumu?” tanya wanita itu.Husein tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya mampu memandang sebentarsepasang suami isteri yang menatapnya penuh haru dan kasih. Iamembayangkan, betapa bahagianya jika dua orang di depannya itu adalahayah dan ibunya, dua orang yang begitu dirindukannya.
“Maukah engkau tinggal bersama kami? Anggaplah kami orang tuamu,” ujarwanita itu dengan suara sedikit bergetar. Husein semakin terharu.Perlahan ia tegakkankepalanya yang sejak tadi lebih banyak tertunduk. Mata polosnya menatapsepasang suami isteri di depannya dengan penuh tanya.
“Ikutlah dengan kami,” tiba-tiba suami perempuan itu ikut bicara. Iamemegang bahu Husein. Lagi-lagi Husein tidak mampu menahan harunya. Iarebahkan wajahnya dibahu lelaki itu. Air matanya belum juga reda. Isteri lelaki itu kembalimengusap kepala Husein.Jangan takut, Nak. Meskipun orang tuamu belum engkau temukan, kamibersedia menjadi pengganti mereka. Jadilah anak angkat kami,” bujukisterinya lagi.
Suami wanita itu mengangkat kepala Husein dan kembali memandangnyadengan penuh rasa sayang. Sorot matanya menunjukkan betapa iabenar-benar ingin mengajak Husein menjadi bagian dari keluarganya.
“Ikutlah dengan kami. Jadilah anak angkat kami,” ucap lelaki itu sambilmemegang tangan kanan Husein. Isterinya pun segera berdiri dan memegangtangan kiri Husein.Tanpa bisa menolak lagi, Husein pun mengikuti kedua pasangan suamiisteri itu menuju mobil mereka. Begitu mobil dibuka, Husein berhentisebentar. Ia ragu-ragu.“Tak apa. Masuklah! Anggaplah kami orang tuamu!” ujar si suami. SetelahHusein masuk, mobil pun segera pergi diikuti tatapan jamaah lain yangtampak keheranan.
Sejak saat itu, Husein tinggal di rumah pasangan suami isteri tadi. Iadianggap anak oleh mereka. Tapi, Husein tetap tidak menyerah. Ia terusberusaha menemukan kedua orang tuanya meskipun sampai hari ini, setelahsatu tahun kedatangannya di ibukota, usahanya tetap sia-sia.
Husein hanyalah salah satu contoh dari anak-anak yatim yang masihberuntung karena masih ada orang yang mau mengasihinya. Masih banyakanak-anak kita yang berkeliaran di jalan-jalan tanpa seorang pun yangpeduli apalagi melindungi dan mengasihi mereka. Semoga di hari yangfitri nanti kita bisa berbagi kebahagiaan kepada mereka yang kurangberuntung, terutama anak-anak yatim di sekitar kita.
Amiin.

Jumat, 12 September 2008

Mutiara Romadhan 1429 H

Diposting oleh: Matekur
Email: matekur@yahoo.com


Topik: Pengemis Buta Dan Rasulullah SAW

Renungan di bulan Ramadhan…..bacalah………!!!
Di sudut pasar Madinah ada seorang pengemis Yahudi buta yang setiap harinya selalu berkata kepada setiap orang yang mendekatinya, Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya. Namun, setiap pagi Muhammad Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawakan makanan, dan tanpa berucap sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu sedangkan pengemis itu tidak mengetahui bahwa yang menyuapinya itu adalah Rasulullah SAW. Rasulullah SAW melakukan hal ini setiap hari sampai beliau wafat. Setelah wafatnya Rasulullah SAW, tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu. Suatu hari sahabat terdekat Rasulullah SAW yakni Abubakar RA berkunjung ke rumah anaknya Aisyah RA yang tidak lain tidak bukan merupakan isteri Rasulullah SAW dan beliau bertanya kepada anaknya itu,Anakku, adakah kebiasaan kekasihku yang belum aku kerjakan? Aisyah RA menjawab,Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah dan hampir tidak ada satu kebiasaannya pun yang belum ayah lakukan kecuali satu saja. Apakah Itu?, tanya Abubakar RA. Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada disana, kata Aisyah RA.. Keesokan harinya Abubakar RA pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu. Abubakar RA mendatangi pengemis itu lalu memberikan makanan itu kepadanya. Ketika Abubakar RA mulai menyuapinya, sipengemis marah sambil menghardik, Siapakah kamu? Abubakar RA menjawab,Aku orang yang biasa (mendatangi engkau). Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku, bantah si pengemis buta itu. Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut, setelah itu ia berikan padaku, pengemis itu melanjutkan perkataannya. Abubakar RA tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW. Seketika itu juga pengemis itu pun menangis mendengar penjelasan Abubakar RA, dan kemudian berkata, Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia.... Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat di hadapan Abubakar RA saat itu juga dan sejak hari itu menjadi muslim. Nah, wahai saudaraku, bisakah kita meneladani kemuliaan akhlaq Rasulullah SAW? Atau adakah setidaknya niatan untuk meneladani beliau? Beliau adalah ahsanul akhlaq, semulia-mulia akhlaq. Kalaupun tidak bisa kita meneladani beliau seratus persen, alangkah baiknya kita berusaha meneladani sedikit demi sedikit, kita mulai dari apa yang kita sanggup melakukannya. Sebarkanlah riwayat ini ke sebanyak orang apabila kamu mencintai Rasulullahmu. .. Sadaqah Jariah salah satu dari nya mudah dilakukan, pahalanya? MasyaAllah.. ..macam meter taxi...jalan terus. Sadaqah Jariah - Kebajikan yang tak berakhir. 1. Berikan al-Quran pada seseorang, dan setiap dibaca, Anda mendapatkan hasanah. 2. Sumbangkan kursi roda ke RS dan setiap orang sakit menggunakannya, Anda dapat hasanah. 4. Bantu pendidikan seorang anak. 5. Ajarkan seseorang sebuah do'a. Pada setiap bacaan do'a itu, Anda dapat hasanah. 6. Bagi CD Quran atau Do'a. 7. Terlibat dalam pembangunan sebuah mesjid. 8. Tempatkan pendingin air di tempat umum. 9. Tanam sebuah pohon. Setiap seseorang atau binatang berlindung dibawahnya, Anda dapat hasanah. Aminnnnnn...

Pojok Pranotocoro 2

Diasuh Oleh Ani Wahyu Indarasati
email: ani_wi@ymail.com

Sugeng Rawuh, Bapa
(disampaikan pada saat pisah kenang Kepala Sekolah)
Sugeng Rawuh, Bapa,
Nalika ing bang wetan katon teja maya,
nDak anti rawuhmu kanthi pangarep bagya,
Minagkani pandeganing baito iki,
Bakal ngripta adi karya nebar amrik ganda wangi

Sugeng Rawuh, Bapa
Aja dadi cuwaning galih,
Menawa nemahi reridu lan rubeda,
Kang wigati bisa gilig nyawiji,
Mula ndak suwun, pijer ulungna astanmu,
Kita tansah gegandhengan rewang-rinewang,
Lumaku bebarengan mapagi dalan padhang.

Sugeng Rawuh, Bapa
Muga bisa memayu hayu hangayemi,
Mring mitra sesami,
Ndyan terkadang katon rob segarane,
Lan pancaroba mangsane.

Jumat, 29 Agustus 2008

Pojok Pranotocoro

Oleh Ani Wahyu Indarasati
email: ani_wi@ymail.com


SUGENG TINDAK BAPA

(disampaikan pada saat pisah kenang Kepala Sekolah)


Yogene ora langgeng mangkene,
Segara lan angin kang nguntapake
baita kita,
Nalika warta tindak panjenengan,
NDak tampa tanpa panyangka.

Tindakmu pancen sumedhot ing pangrasa,
Senadyan ora adoh saka pandhulu,
Nanging tansah nuwuhake rasa kapang ing dada,
Mula ndak suwun, aja ana tumetesing waspa.

Sugeng tindak bapa,
Paringmu sesanthi bakal ndak rukti permadi,
“Makarya bebarengan lan bebarengan makarya”
Tansah manjing lestari widada.

Paringo agunging pangaksama, Bapa...
Dina iki aku ora bisa atur pisungsun apa-apa,
Ya mung, maewu puja pudyastuti rahayu,
Winengku sakabehing suka lan bagya,

Sugeng tindak, Bapa...
Tansah mesema sing sumringah,
Kareben dina-dina kang bakal katiti,
Katon tansah endah.

Kamis, 14 Agustus 2008

Menelusuri Akar Masalah Teks dan Mata Pelajaran Sejarah

Oleh : Drs. Yani Santoso
email: yanisantoso@ymail.com

Peminat Sejarah dan Guru SD Setia Budhi Gresik
Jumat, 15 Agustus 2008

Lahirnya tulisan ini merupakan keinginan penulis untuk silaturahmi dan saling mengisi informasi melalui tulisan dan menjadikan Forum Komunikasi Alumni Sejarah 1984,benar – benar sebagai wahana informasi komunikasi dan dedikasi mengingat anggota forum komunikasi ini sebagian besar anggotanya adalah guru sejarah bahkan ada pula yang dosen sejarah .Agar setiap anggota bisa berdiskusi lewat dunia maya tentang hal-hal yang tidak diketahui dalam mata pelajaran sejarah yang sekarang ini banyak menjadi perdebatan .
Perdebatan – perdebatan seputar masalah – masalah buku teks sejarah , kurikulum maupun materi esensial sejarah khususnya seputar G 30 S / PKI ( G 30 S ) sering menghiasi halaman media massa maupun buku – buku terbitan baru yang memuat pandangan masing – masing sejarawan .
Perbedaan pandangan di kalangan sejarawan Indonesia bukanlah sesuatu yang harus diributkan melainkan merupakan kekayaan yang akan sangat berharga bagi kemajuan historiografi Indonesia jika perbedaan itu mampu dikelola dengan jujur berdasarkan sikap saling menghargai , kaedah yang berlaku umum secara ilmiah , dan bebas dari ambisi politis .
Herbert Butterfield dalam buku The Whig Interpretation of History mencoba memberi batasan penilaian yang bisa diberikan oleh sejarawan . Dia mencatat , lepas dari kesalahan penafsiran , sejarawan bertugas untuk memberi argumentasi yang lebih kepada upaya kritik dan moralitas serta menjauhi hasrat untuk menghakimi .
Jika sejarah obyektif adalah peristiwa ( moment ) itu sendiri , maka sejarah subyektif berdekatan dengan penafsir ( interpreter ) yang memberi makna bagi historiografi ( penulisan sejarah ) .
Dalam memahami suatu perbedaan ,cara berpikir seorang sejarawan tentunya sangat berbeda dengan masyarakat umum maupun siswa . Jika seorang sejarawan menanggapi suatu perbedaan merupakan suatu kekayaan maka seorang masyarakat maupun siswa lebih cenderung menanggapi dengan kebingungan bahkan menghakimi tanpa didukung sumber – sumber akurat .
Sejak reformasi 1998 yang ditandai berhentinya Soeharto menjadi Presiden dan merosotnya kekuatan orde baru , muncul gugatan terhadap teks sejarah orde baru . Banyak buku beredar isinya bertentangan dengan versi pemerintah yang selama masa 1965 – 1998 tidak ada tulisan tentang masalah kontroversial ditulis karena berbagai alasan kecuali percaya kepada buku versi orde baru . Akhirnya para guru mengeluhkan sikap siswanya yang menganggap pelajaran sejarah sebagai pelajaran membingungkan . Buku sejarah mengatakan A (tentang sebuah peristiwa ) tetapi media massa justru menyatakan B .
Kenyataan ini disebabkan penulisan sejarah pada masa Soeharto atau kerap disebut rezim orde baru (orba ) dilihat selalu dekat dengan penguasa . Penonjolan peran militer dan pengultusan personal sebagai orang yang paling berjasa bagi negara memenuhi buku – buku sejarah dengan label “ Sejarah Nasional “ .
Dalam masa orba , yang paling bertanggung jawab terhadap penulisan Sejarah Nasional adalah sejarawan akademis . Setiap penulisan sejarah selalu didominasi sejarawan akademis yang terpayungi otoritas keilmiahan sampai kenegaraan .
Hal ini bisa dibuktikan dengan menelusuri proses kelahiran buku Sejarah Nasional Indonesia (SNI ) 6 jilid yang sering disebut buku “ Babon “ . SNI yang diterbitkan tahun 1975 ditengarai banyak sejarawan dibuat sedemikian rupa untuk kepentingan penguasa . Apalagi adanya istilah buku “ Babon “ atau “ Pedoman “ semakin mengukuhkan peran pemerintah . Istilah “ Babon “ atau “ Pedoman “ adalah kewenangan pemerintah yang dapat mengeluarkan kebijakan untuk menetapkan buku mana yang pantas dijadikan acuan bukan sejarawan atau para penulisnya . Terbukti , tanggal 18 maret 1976 Presiden Soeharto menerima dengan resmi 6 jilid buku SNI . Presiden memerintahkan agar buku tersebut di pergunakan di sekolah – sekolah . Buku SNI itu akan dipakai sebagai “ Buku pelajaran diperguruan sekaligus bahan acuan penulisan buku sejarah tingkat sekolah dasar sampai lanjutan tingkat atas ". Berdasarkan SNI itu Nugroho Notosusanto (bersama Yusmar Basri,dari Pusat Sejarah ABRI ) menyunting buku Sejarah Nasional Indonesia , untuk SMP dan SMA.Buku itu diterbitkan oleh Depdikbud bekerjasama dengan Balai Pustaka . Masing – masing tingkatan dibuat menjadi tiga jilid . Dengan rincian jilid pertama untuk kelas I memuat pelajaran sejarah Indonesia jaman pra sejarah dan jaman kuno . Jilid kedua untuk kelas II memuat pelajaran sejarah Indonesia abad ke – 16 sampai abad ke – 19 . Sedangkan jilid ketiga untuk kelas III memuat pelajaran sejarah Indonesia jaman kontemporer .
Sejak awal buku SNI menuai banyak konflik dan kritik . Konflik sudah dimulai dalam lingkungan tim penyusun sejarah ini . Deliar Noer , anggota jilid V , yang ditugasi menulis “ Sejarah Pergerakan Islam , 1900 – 1945 “ , suatu hari dipanggil oleh Nugroho Notosusanto dan diminta mengundurkan diri . Materi sejarah yang ditulis Deliar tidak dimuat sama sekali dalam SNI . Mundurnya Deliar ,kemudian diikuti seluruh temannya pada jilid V , yakni Abdurrahman Surjomiharjo , Thee Kian Wie dan Taufik Abdullah . Taufik Abdullah pun menyatakan buku SNI mengecewakan beberapa penulisnya . Penanggung jawabnya mencetak naskah – naskah yang belum rampung dan belum dikoreksi , tanpa sepengetahuan para penulisnya . Terakhir , “ mundur “ Sartono Kartodirjo , yang keberatan dilibatkan sebagai penanggung jawab materi buku tersebut , terutama SNI jilid VI . Sejak edisi awal sampai edisi ketiga (1982) , nama Sartono memang dicantumkan dalam sampul depan bersama dengan Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto . Belakangan dalam edisi keempat ( 1984 ) ,nama Sartono sudah dihapus .
Diantara keenam jilid buku SNI , buku SNI jilid VI yang paling banyak mendapat kritik dan yang bertindak selaku ketua editor adalah Nugroho Notosusanto . Dari seluruh buku yang dijadikan acuan , buku karya Nugroho sendiri yang paling banyak dipakai , yaitu 17 buku . Tercatat pula 14 artikel Nugroho yang dijadikan referensi penulisan buku ini . Sedangkan artikel dari penulis lainnya tak ada yang melebihi tiga . Walaupun secara ilmiah hal itu tidak salah , tetapi mengesankan bahwa sang penulis lebih banyak menjabarkan pendapatnya sendiri daripada melakukan kajian sejarah yang baru secara utuh .
Dilihat dari penulisannya dan permasalahan – permasalahan yang diajukan , Nugroho menganggap sejarah sebagai suatu cermin masa depan dan bukan menganggap sejarah semata-mata suatu gambaran masa lampau . Dalam penulisan sejarah di Indonesia dikenal tiga jenis atau genre yaitu Sejarah Ideologis , Sejarah Pewarisan dan Sejarah Akademik . Nugroho lebih cenderung ke Sejarah Ideologis seperti Yamin dan Roeslan Abdulgani . Titik tolak yang paling penting dalam jenis sejarah macam ini adalah pencarian arti subyektif dari peristiwa sejarah . Masa lampau dipelajari bukan demi pengetahuan mengenai masa lampau tetapi demi lambang yang bisa digunakan untuk masa kini . Sikap ini jelas tampak dalam karya biografi Yamin dan tulisan – tulisan mengenai sejarah kuno Indonesia . Yamin menggunakan para pahlawan masa lampau sebagai personifikasi bagi “ manusia Indonesia “ yang ideal. Tulisannya mengenai sejarah kuno Indonesia jelas menyarankan agar keagungan yang dilukiskannya itu hendaknya menjadi model sebagai masa depan bagi suatu Indonesia yang baru dan bersatu . Karya – karya Roeslan Abdulgani tidak banyak berbeda dengan karya – karya Yamin . Walaupun lebih halus dalam pembeberan sejarah Indonesia dan lebih banyak menekankan pada priode pergerakan nasional serta perjuangan kemerdekaan . Abdulgani juga berusaha menjelaskan arti simbolik dari pengalaman sejarah . Baginya sejarah merupakan guru yang paling baik yang bisa mengajarkan cara menghindari kesalahan – kesalahan masa lampau dan menikmati keagungan – keagungan masa lampau . Sikap yang sama terdapat dalam tulisan – tulisan Nugroho Notosusanto . Dalam tulisannya yang teoritis ia menolak kemungkinan mencapai obyektifitas sejarah . Ia menekankan nilai edukatif dari sejarah .
SNI jilid VI juga terkontaminasi dengan kehendak politik saat itu yaitu mengangkat kehebatan Soeharto dan memojokkan Soekarno . Selain itu SNI jilid VI banyak dijumpai berbagai propaganda pemerintah Orde Baru .
Dari sudut ilmiah agaknya buku ini akan sulit dipertahankan . “Masalah pokok jilid VI ini adalah ketidakjelasan kerangka acuannya ( frame of work ) ,” kata sejarawan Taufik Abdullah .
Kritik paling tajam datang dari BM Diah di Harian Merdeka 8 april 1976 dan tulisan yang sama dimuat bersambung pada Harian Merdeka 18 – 20 september 1985 . Tulisan ini kemudian dibukukan BM Diah , Meluruskan Sejarah , Kumpulan Karangan , Jakarta : Pustaka Merdeka,1987 .
Perdebatan disekitar pelurusan sejarah hampir seluruhnya hanya berputar disekitar penzaliman yang dilakukan oleh Orde Baru . Dalam konteks sejarah kritis , pelurusan sejarah tidak bisa hanya dilihat secara parsial dan sekedar mengambil salah satu episode dari masa lalu itu untuk melegitimasi eksistensi sesuatu dan untuk menyatakan kebenaran historis .
Bagi sejarawan maupun guru sebagai pembelajar sejarah perlu mensikapi dengan prinsip – prinsip sejarah kritis dalam menghadapi menjamurnya karya – karya yang berhubungan dengan peristiwa G 30 S /PKI ( G 30 S ) . Ada bukti kuat atas terbitnya karya – karya itu hanya tinggal menunggu waktu untuk juga terjebak dalam kesalahan yang sama seperti karya – karya sebelumnya , jika prinsip – prinsip sejarah kritis tidak diterapkan . Bahkan beberapa karya yang ada telah terlibat secara emosional terhadap para korban , sehingga historiografi yang dihasilkan bergerak dari historiografi kritis ke historiografi simpati,dan kemudian ke historiografi empati .
Bagaimanapun juga sejarah adalah soal sudut pandang . Topik yang dibicarakan sebenarnya adalah masalah saat sejarah sebagai persoalan akademis dipindah kemateri pelajaran untuk pendidikan dalam arti subyektif bangsa . tidak seperti pelajaran lain , sejarah tidak hanya memiliki ranah pengetahuan , tetapi juga makna subyektif berbangsa . Artinya ,selain sebagai ilmu yang bekerja secara kritis , sejarah juga bermuatan makna yang dipegang dan nilai yang dianut suatu masyarakat pemilik sejarah itu .Pelajaran Sejarah merupakan sarana untuk memperkenalkan jati diri bangsa , sekaligus menanamkan semangat nasionalisme bagi siswa .
Sebagai rambu – rambu , guru sebagai pembelajar sejarah harus memahami perbedaan pendekatan pada tiap – tiap tingkatan . Untuk SD , sejarah dapat dibicarakan dengan pendekatan estetis .Artinya , sejarah ,diberikan semata – mata untuk menanamkan rasa cinta kepada perjuangan , pahlawan , tanah air , dan bangsa . Untuk SMP , sejarah hendaknya diberikan dengan pendekatan etis . Kepada siswa harus ditanamkan pengertian bahwa mereka hidup bersama orang , masyarakat dan kebudayaan lain ,baik yang dulu maupun yang sekarang. Oleh karena wajib belajar sampai sembilan tahun , jadi meliputi SD dan SMP , diharapkan mereka yang sudah lulus SMP , selain mencintai perjuangan , pahlawan , tanah air dan bangsa , mereka juga tidak canggung dalam pergaulan masyarakat yang semakin majemuk . Kepada anak – anak SMA yang sudah mulai bernalar itu , sejarah harus diberikan secara kritis . Mereka sudah diharapkan sudah bisa berpikir mengapa sesuatu terjadi , apa sebenarnya yang telah terjadi , dan kemana arah kejadian – kejadian itu .
Kemampuan kritis dituntut bagi pembelajar sejarah di tingkat SMA . Sebab tidak ada sejarah tanpa pertanyaan atau permasalahan . Analisis terhadap persamaan dan perbedaan fakta dalam rekonstruksi dan memahami sejarah suatu keharusan akademis . Salah satu pertanyaan itu adalah “ di mana letak perbedaan pendapat yang satu dibanding yang lain “.
Namun , prasyarat untuk melakukan perbandingan perlu dipenuhi . Guru harus memahami peta perbedaan pendapat , guru harus banyak membaca buku – buku atau karya – karya sejarah yang banyak beredar sekarang ini . Hal ini tentu sulit untuk dipenui setiap guru sebagai pembelajar sejarah di saat kesejahteraan guru masih terabaikan . Misalnya ,untuk mengetahui berbagai pendapat tentang G 30 S/PKI ( G 30 S ) , guru harus mempunyai banyak literatur selain versi pemerintah ( SNI jilid VI ) agar guru bisa menjawab berbagai pertanyaan siswa yang kritis untuk memenuhi rasa ingin tahunya kadang juga untuk menguji kemampuan guru .Seringkali pertanyaan itu didapat siswa karena pergaulan siswa dengan elemen masyarakat kritis .
Hingga kini tragedi G 30 S / PKI ( G30 S ) masih gelap meski sudah coba “diungkap “ dalam puluhan buku dan ratusan artikel ilmuwan , politisi dan wartawan barat . Tentang dalang , para penulis umumnya terpecah dalam empat kelompok besar , masing – masing dengan argumentasinya sendiri .
Kelompok pertama meyakini , Partai Komunis Indonesia ada dibelakang G 30S . Seperti termuat dalam SNI jilid VI .
Kelompok kedua meyakini , G 30 S adalah “karya ulung” Soeharto dengan CIA .Seperti yang ditulis Peter Dale Scott dengan judul Te United States and the Overthrow of Soekarno , 1965 – 1967 yang dimuat di Pasific Affairs ( 1985 ).
Kelompok ketiga meyakini , Presiden Soekarno adalah dalangnya , seperti yang ditulis Anthonie CA Dake dengan judul buku Sukarno File , berkas – berkas Sukarno 1965 – 1967 ,kronologi suatu keruntuhan .
Kelompok keempat berpendapat , G 30 S sepenuhnya masalah internal angkatan darat , seperti yang ditulis tiga akademisi Amerika Serikat : Ben Anderson , Ruth Mc Vey, dan Frederick Bunnel yang berjudul Cornell Paper . terbitan yang berjudul asli A Preliminary Analysis of the October 1, 1965 Coup in Indonesia .
Versi mana yang mendekati kenyataan , masih diperlukan puluhan tahun lagi . Bahkan Peristiwa G 30 S masih diliputi misteri yang belum terungkap .
Sekarang , keinginan masyarakat khususnya guru dan siswa untuk mendapatkan Buku Sejarah Indonesia yang lengkap dan terpercaya rupanya amat besar .Sejak terbitnya Buku Sejarah Nasional Indonesia Jilid I-VI ,hingga kini belum ada lagi penulisan Sejarah Indonesia . Setelah 30 tahun ,dari penulisan dan penelitian Sejarah Indonesia ( SI ) baik tesis maupun disertasi telah banyak hal baru yang ditemukan . Dengan demikian penulisan Sejarah Indonesia yang komprehensif (comprehensif study of history ) yang baru sudah menjadi tuntutan jaman .
Gagasan untuk merancang penulisan Sejarah Indonesia mulai dilakukan tahun 2002 . Tim penulis para sejarawan dan sejumlah pakar ilmu sosial – politik lain mulai bekerja sejak tahun 2003 dan diharapkan selesai tahun 2006 .
Penulisan buku Sejarah Indonesia yang direncanakan terdiri dari delapan jilid dari masa Prasejarah sampai masa Reformasi . Tim penulisnya dibagi atas (a) editor umum,yaitu Prof Dr Taufik Abdullah dan Prof Dr AB Lapian ; (b) editor jilid berjumlah 16 orang (tiap jilid terdiri terdiri dari dua editor jilid ) ; dan (c) penulis berjumlah sekitar 70 orang .mereka umumnya dari perguruan tinggi , berasal dari Banda Aceh sampai Jayapura .
Setiap nama penulis akan dicantumkan pada setiap bab yang ditulisnya .Dengan kata lain , tanggung jawab penuh berada pada dirinya sendiri .Editor jilid dan editor umum bertugas untuk menyerasikan isi yang mungkin akan bertumpang tindih .Hak cipta berada pada penulis yang bersangkutan .
Pemaparannya bersifat ensiklopedis tanpa teleologi yang menjurus ke satu tujuan .Yang penting adalah mengisi khazanah sejarah kita dengan segi – segi yang cenderung terlupakan .Pemerintah hanya memberikan fasilitas ,tetapi kerangkanya juga dibuat oleh para sejarawan .Dalam hal ini pemerintah tidak ikut campur tangan dalam penentuan isi . Isinya mencakup sejarah olah raga , sejarah ilmu pengetahuan ,sejarah arsitektur,sejarah perikanan ,sejarah tenaga kerja ,sejarah penyelengaraan haji ,sejarah seni lukis ,dan sebagainya .Penulisannya tidak hanya berfokus pada pada sejarah di Jawa dan Sumatera juga dari sudut teori dan metodologi penulisan penulisan sejarah yang semakin dinamis .
Taufik Abdullah ,editor umum SI , berulang kali menegaskan bahwa buku SI benar – benar merupakan buku baru dan meminta agar jangan menganggapnya sebagai pengganti buku SNI . Kedua buku ini berbeda dan tidak ada kaitannya .SI bukan revisi dari buku sejarah yang pernah ada .Buku SNI biar jadi sumber sekunder , bahan bacaan ,dan punya hak hidup sendiri . Buku SI lebih menekankan pada kelengkapannya dan lebih bersifat ensiklopedis,sebuah studi komprehensif tentang sejarah Indonesia .
Banyak fihak berharap sejarah akan kembali menjadi milik masyarakat ,bukan negara ,dan bukan sebagai hegemoni penguasa ,tetapi sebagai jati diri personal , masyarakat lebih – lebih sebuah bangsa .Sehingga cukup diperlukan Sejarah Indonesia .Dan pada akhirnya historiografi Indonesia menjadi benar – benar bermanfaat dan menjadi media pencerahan bagi masyarakat di kekiniannya yang akan segera menjadi masa lalu itu sekaligus untuk mengantar mereka melangkah ke masa depan yang lebih cerah .